24/04/2026
Di ATM Jalan Sunu, Saya Bertemu Seorang Penyintas yang Menjaga Malam
Lewat pukul sembilan malam, tiga naskah berita masuk hampir bersamaan dari dua penulis. Layar handphone menyala, notifikasi bertumpuk, tetapi malam itu suasana hati sedang tidak begitu berpihak. Ada pekerjaan yang menunggu diedit, tetapi ada juga rasa penat dan malas sebenarnya.
Saya memilih keluar sebentar. Setelah pamit ke orang rumah, saya menuju warkop Azzahra, di Jalan Ujung Pandang Baru—tempat yang biasanya cukup membantu merapikan pikiran sebelum kembali menghadapi tenggat.
Saya terlebih dulu memutar arah ke ATM di Jalan Sunu, di halaman Toko Mursalim—toko lama yang bagi banyak orang di kawasan itu seperti penanda waktu yang tidak berubah. Bangunan dan produknya tetap sama seperti kembali di tahun 90-2000an.
Di antrean ATM, saya melihat seorang bapak berbaju ungu. Wajahnya asing. Baru pertama kali saya melihatnya di situ.
Saya kira ia sedang ikut mengantre di depan saya. Saya persilakan masuk lebih dulu. Ia tidak banyak bereaksi, hanya tampak fokus menemani seorang perempuan yang baru keluar dari mesin ATM. Ada kunci di tangannya. Saya menduga ia sedang mengantar.
Saat berada di dalam bilik ATM, saya sempat memperhatikannya dari balik kaca. Ada sesuatu pada wajahnya—bekas luka, atau mungkin sisa-sisa sebuah peristiwa kecelakaan.
Ketika saya keluar, ia ikut mengarahkan jalan keluar.
Barulah saya paham.
“Oh, kita tukang parkir, Pak?”
Saya sebenarnya berharap di jam seperti itu tak ada lagi penjaga parkir.
“Sampai malam begini ki, Pak?” tanya saya.
Ia menjawab singkat, tanpa nada mengeluh.
“Cari uang dek, untuk biaya operasi.”
“Mata ta?” saya bertanya, menatap wajahnya yang tampak menyimpan cerita.
“Iye… ini sudah pernah operasi sebenarnya.”
Saya bertanya lagi, apakah itu karena kecelakaan.
Jawabannya membuat percakapan kecil di tepi ATM itu berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Karena tsunami Palu, 2018.
Malam seketika terasa lain.
Saya hanya sempat berkata, “Sehat-sehat ki Pak, semoga banyak rezeki ta.”
Ia membalas dengan kalimat yang justru seperti nasihat untuk saya:
“Kita juga hati-hati ki. Jaga kesehatan ta,”
Saya melanjutkan motor ke arah warkop. Waktu tinggal dua jam sebelum tutup. Tetapi baru sekitar 400 meter, di depan SMP Negeri 4, saya putar haluan.
Ada sesuatu yang belum selesai.
Saya kembali ke ATM itu.
Bapak itu—yang kemudian saya tahu bernama Frans—menyambut seperti sudah menunggu saya kembali.
Saya bilang saya juga pernah di Palu saat liputan bencana.
Ia lalu mulai bercerita.
Tentang bagaimana dirinya baru ditemukan tiga hari setelah bencana.
“Waktu itu tentara lagi gali-gali, tidak pakai alat berat, pakai tangan saja… saya ditemukan akhirnya.”
Kalimat itu keluar datar, hampir tanpa dramatik. Justru karena itu terasa berat.
Ia menceritakan ibunya yang berusia 80 tahun menangis saat menerima telepon darinya setelah dinyatakan selamat.
Tentang merantau demi mencari uang untuk ibunya.
Tentang hari ketika ia sedang mengantar gas, lalu gelombang itu datang.
“Saya merantau dek, untuk cari uang juga untuk mamaku. Tapi pas ka antar gas, kejadian itu tsunami.”
Ia mengabaikan empat orang yang keluar masuk ATM, lebih memilih bercerita.
"Kenapa ki tidak pakai BPJS, gratis sekarang," saranku, "Pak lurah tawwa sudah mau bantu, tapi hilang semua berkasku, harus ada surat pindah," ungkapnya.
Di bawah lampu jalan yang redup, di samping mesin ATM dan deru kendaraan yang sesekali melintas, cerita itu terasa lebih sunyi dari malam itu sendiri.
Saya sempat berpikir sedang berhenti sebentar di ATM dan mengejar kopi sebelum mengedit berita.
Ternyata saya sedang dihentikan hidup untuk mendengar kisah seorang penyintas.
Ada banyak orang yang kita temui di pinggir jalan, di tempat parkir, di sela rutinitas, yang tampak seperti bagian biasa dari lanskap kota. Padahal mereka membawa kisah yang nyaris tak terlihat.
Frans menjaga parkir hingga larut malam untuk biaya operasi.
Seorang lelaki yang pernah tertimbun, ditemukan tiga hari kemudian oleh tangan-tangan tentara, tangan relawan, kini berdiri mengatur keluar-masuk motor di halaman toko tua.
Saya datang malam itu untuk mencari tempat menulis.
Tapi yang saya bawa pulang justru pengingat lain: bahwa kadang hidup menyelipkan pelajaran bukan di ruang-ruang besar, melainkan di perjumpaan yang nyaris kita lewatkan begitu saja.
Di halaman ATM, dari seorang penyintas yang menjaga malam, saya diingatkan bahwa bertahan sering kali tidak terdengar heroik—ia hadir dalam cara seseorang tetap bekerja dengan luka, tetap sopan setelah selamat dari maut, tetap mendoakan orang lain di tengah kesulitannya sendiri.
Malam itu saya datang ke ATM. Yang saya tarik pulang justru kesadaran.
Bahwa ada manusia-manusia yang tetap hidup dengan cara paling sunyi: menjaga, berjuang, dan tidak banyak mengeluh.
Dan mungkin, di kota yang terus bergegas ini, kita sesekali memang perlu dihentikan—agar kembali belajar menghormati orang-orang, yang kita tidak pernah tahu pertarungan apa di dalam hidupnya yang sedang diperjuangkan.
Ini juga kembali mengingatkan prinsip saya, "Karena saya tidak tahu apa yang sedang diperjuangkan sama orang, jadi harus bersikap default baik ke semua orang yang tidak kukenal,".
Update (24/4): Terkait beliau sudah saya laporkan ke Dinas Sosial Sulsel dan akan berkoordinasi dengan Dinsos Makassar untuk assesmentnya untuk kebutuhan beliau. Setelah pertemuan kemarin saya belum ketemu lagi beliau, inshaallah besok. Teman-teman kalau mau kasih rejeki ke beliau saja langsung. Terima kasih perhatiannya... 😃🫰🙏